Prospek Budidaya Tanaman Kayu Sengon / Albazia / Albasia On Trubus

Berebut Kayu Sengon

Penantian H Undang Syaefudin terbayar sudah. Mei 2008 ia memanen 3 ha sengon setelah menunggu 5 tahun. Populasi setiap hekar 600 pohon yang menjulang 16-20 m dan berdiameter 25 cm. Pekebun di Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, itu sumringah lantaran rekeningnya kian gemuk. Ia mengantongi Rp211.750.000 dari penjualan kayu sengon.
Nilai itu berasal dari penjualan 270 m3 kayu gelondongan berdiameter minimal 19 cm. Harganya Rp650.000 per m3. Pekebun berusia 46 tahun itu juga menjual 50 m3 palet dengan harga Rp725.000 per m3. Dengan biaya perawatan setiap tahun rata-rata Rp1.200.000 per ha, Undang menangguk laba bersih Rp193.750.000. Itulah sebabnya menjelang musim hujan ini, ia mempersiapkan lahan 12 ha untuk penanaman sengon.
Bila Undang memanen semua pohon alias tebang habis, Dian Hadiyanto memilih menjarangkan. Pekebun di Kawalu, Tasikmalaya, itu mengelola 4 ha masing-masing berpopulasi 600 pohon. Pada Juni 2008, ia menjarangkan 150 pohon per ha sehingga tersisa 450 pohon/ha. Pria 35 tahun itu memanen 250 m3 dari rata-rata tinggi pohon 19-20 m dan berdiameter 25 cm. Dengan harga jual Rp450.000 per m3, Dian mengantongi Rp112.500.000.
Sisa pohon akan dipanen 2 tahun mendatang. Dian memprediksi memanen 300 m3 dari 450 pohon berumur 7 tahun pada 2010. Jika harga jual tetap, ia bakal memperoleh Rp135-juta atau Rp540-juta dari lahan 4 ha. Di sentra sengon Pandeglang, Provinsi Banten, ada Asep Halimi yang mewujudkan impian menghajikan 11 kerabatnya berangkat ke Mekah bersama. Pekebun di Citeureup, Kabupaten Pandeglang, itu mampu membiayai mereka lantaran baru saja memanen 10 ha sengon senilai Rp322-juta.
Populer
Dua tahun terakhir popularitas sengon memang meningkat. Padahal, ia dikenal sebagai kayu kelas 3. Penyebabnya? 'Kerusakan hutan alam sangat parah. Laju degradasi 2,87-juta ha per tahun menyebabkan hutan tak mampu lagi menjadi pemasok kayu untuk bahan baku industri,' kata Ridwan Achmad Pasaribu, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan.
Menurut Dr Iskandar Zul Siregar, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pada 1990 tercatat 564 perusahaan hak pengusahaan hutan dengan produksi 28-juta ton. Jumlahnya tersisa 247 perusahaan yang menghasilkan 11-juta ton pada 2003. 'Penebangan ilegal bisa 4 kali lipat dari total produksi itu,' ujar Iskandar. Ketika luas hutan kian menyusut, di sisi lain justru, 'Kebutuhan kayu sangat tinggi dan tak tergantikan,' ujar doktor Genetika Kehutanan dan Pemuliaan Tanaman alumnus Georg-August University, Goettingen, Jerman, itu.
Ketika itulah masyarakat dan industri yang membutuhkan kayu melirik sengon. Kayu sengon memang tak sekeras jati. Namun, dengan perendaman dalam garam wolman, kayu sengon mampu bertahan 30-45 tahun. Garam wolman campuran 25% natrium fl uorida, 25% dinatrium hidrogen arsenat, 37,5% natrium kromat, 12,5% dinitro fenol. Teknologi lain untuk memperkuat sengon adalah biokomposit. Sengon yang tak sekuat jati dicampur dengan kayu lain sesuai dengan peruntukan.
Pantas bila sengon banyak dikebunkan di berbagai daerah seperti di Kabupaten Ciamis dan Kotamadya Banjar, Jawa Barat, Temanggung dan Banyumas (Jawa Tengah), serta Pasuruan dan Kediri (Jawa Timur). Masyarakat berbondong-bondong mengebunkan sengon lantaran masa tebang relatif singkat 5-10 tahun. Bandingkan dengan masa tebang jati Tectona grandis yang mencapai 25-35 tahun.
Selain itu, 'Pengelolaan budidaya sengon mudah, kesesuaian tumbuh tak sulit, kayunya serbaguna, dan memperbaiki kualitas serta kesuburan tanah,' ujar Yana Sumarna MS, periset Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Itu juga disampaikan Sapari karyawan PT Waskita Karya-BUMN di bawah Departemen Pekerjaan Umum-yang mengebunkan sengon di Ngadirojo, Kecamatan Lorok, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
'Budidaya sengon itu mudah, risikonya tak terlalu besar, dan pasarnya ada,' kata Sapari yang sebulan sekali pulang ke Pacitan untuk menengok kebun sengon. Bagi Sapari mengebunkan sengon adalah tabungan untuk pensiun kelak. Saat ini 1.200 sengon di ketinggian 450 m dpl berumur 3 tahun. Dua tahun lagi ketika pria 53 tahun itu pensiun, Sapari juga memanennya.
Sengonisasi
Sebelum pekebun ramai-ramai membudidayakan anggota famili Mimosaceae itu, Departemen Kehutanan meluncurkan program sengonisasi pada 1989. Tujuannya untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan serta lahan. Dari target 300.000 ha, realisasi penanaman hanya 35.039 ha. Pekebun yang mendapat benih gratis dalam program itu memanen sengon pada 1997-1998 ketika pohon berumur 7-8 tahun.
Ikin Sodikin, pekebun di Kotamadya Banjar, Jawa Barat, memanen 5.500 pohon pada 1997 hasil program sengonisasi. Ia memperoleh 2.000 m3 kayu senilai Rp250-juta. Omzet menjulang itulah yang mendorong pria kelahiran 11 Januari 1954 getol mengebunkan sengon di lahan 50 ha. Ia tak menyangka bakal meraup pendapatan besar.
Persis yang dialami Shandy Lazuardi, pekebun di Cimanggis, Kotamadya Depok, Jawa Barat. Sepuluh tahun silam ia 'iseng-iseng' menanam 40 bibit sengon di lahan kritis. Ia praktis tak memberikan perawatan berarti hingga Paraserianthes falcataria itu tumbuh besar. Seorang pengepul yang kebetulan lewat kebun sengon terpikat dan langsung menawar. Jadilah, pohon itu ditebang oleh sang pengepul dan Lazuardi mengantongi Rp24-juta. Kisah selanjutnya mudah ditebak, alumnus Institut Pertanian Bogor itu memperluas penanaman sengon hingga 110.000 bibit.
Tak semua pekebun menapaki jalan mulus seperti Undang Syaefudin, Dian Hadiyanto, dan Asep Halimi. Beragam rintangan menghadang pekebun sengon buat meraup laba. Peluang memetik laba besar bakal terhambat jika pekebun tak mengetahui informasi harga seperti dialami Zaenal Abidin. Mahasiswa pascasarjana Universitas Islam Negeri Gunungjati Bandung itu pada pertengahan Juli 2008 memanen 1.000 pohon.
Dengan tinggi rata-rata 20 m dan berdiameter 30 cm, pohon-pohon itu menghasilkan 800 m3. Pengepul cuma membayar total Rp25-juta. Artinya, guru Madrasah Ibdidaiyah itu menerima harga Rp31.250 per m3. Padahal saat ini harga kayu sengon di tingkat pekebun mencapai Rp450.000 per m3. Meski demikian Zaenal Abidin tetap merasa untung. 'Bibitnya tidak beli. Biaya produksi rendah, paling hanya mencabuti gulma yang saya lakukan sendiri,' ujar pekebun di Buniwati, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, itu.
Pasokan langka
Pengguna sengon juga menemukan hambatan berupa langkanya ketersediaan bahan. Itu dialami oleh PT Daya Sempurna Cellulosatama, produsen kertas di Bekasi, Jawa Barat. Bertahun-tahun perusahaan yang berdiri pada 1976 itu memanfaatkan sengon sebagai bahan baku pulp. Kadar selulosa yang tinggi dan berserat panjang menyebabkan sengon bagus sebagai bahan baku kertas.
Menurut Gunawan Surya, direktur pabrik, saat ini sulit menerima pasokan sengon lantaran kayu itu banyak dibutuhkan beragam industri. Menurut Gunawan , Daya Sempurna Cellulosatama memerlukan 6.000 ton kayu sengon per bulan. Yang terpasok cuma 1.000 ton. Itulah sebabnya, ia menghentikan penggunaan sengon sebagai bahan baku. Dulu, pada 1983-1900-an, pasokan sengon ke Daya Sempurna Cellulosatama lancar lantaran industri perkayuan tak melirik sengon. Namun, ketika sengon kini menjadi primadona sulit memenuhi kebutuhan itu.
Kendala lain adalah terbatasnya benih berkualitas. Padahal, benih menentukan mutu kayu. Anggapan bahwa sengon dapat 'tumbuh sendiri' tak sepenuhnya benar. Sebab, jika dibiarkan tumbuh tanpa perawatan berarti sengon menjadi incaran hama dan penyakit. Awal 2007 uret alias larva kumbang itu meluluhlantakkan 190 pohon milik Muhdiyono. Serangannya serempak, hingga pekebun di Karangwuni, Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, itu tak sempat menyelamatkan sengon-sengon berumur 2 bulan.
Tinggal telepon
Jika pekebun mampu melampaui berbagai aral, meraih laba besar sebuah keniscayaan. Pekebun tinggal menghubungi perusahaan penggergajian atau eksportir. 'Menjadi pekebun sengon memang enak, cukup telepon kapan saja dan tinggal terima uang tanpa harus menebang,' kata Amir Rosdiana.
Pemilik CV Hasil Bumi itu biasa 'menjemput' kayu di lahan. Begitu mendapat telepon, Amir langsung ke lahan, mengukur lingkar pohon, dan memanjat pohon hingga 10 meter untuk memperoleh volume kayu. 'Pohon yang memiliki lingkar batang 1,2 meter biasanya mencapai 1 m3,' kata Amir. Itu artinya ia mesti membayar Rp450.000. Jika kayunya sempurna, lurus, tak cacat akibat dimakan ulat, harganya melambung Rp800.000 per pohon.
Itu bersih diterima pekebun, tanpa potongan apa pun. Amir mengolah kayu sengon menjadi palet alias papan tipis berukuran 206 cm x 5,2 cm x 25 cm. Setiap pekan ia memproduksi 270 palet untuk memenuhi permintaan perusahaan di Jakarta dan Surabaya. Palet hanya salah satu bentuk pemanfaatan sengon. Sayang, Amir baru dapat menjemput kayu di kawasan Priangan Timur-Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, dan Garut. Pekebun di luar tanah Priangan tak perlu khawatir. Masih banyak penampung sengon. Beberapa di antaranya adalah PT Bina Inti Lesatri, PT Bineatama Kayone Lestari, PT Dharma Satya Nusantara, PT Kutai Timber Indonesia, dan PT Sumber Graha Sejahtera.
Menurut Ir Himawan Rahardjo dari PT Dharma Satya Nusantara Temanggung, sengon kayu multiguna. Kayu sengon berfaedah sebagai bahan bangunan, lantai, dan pintu. Dharma Satya Nusantara Temanggung memproduksi 5.000 m3 kayulapis per bulan. Kebutuhan bahan baku mencapai 5.000 m3 log dan 10.000 m3 sawntimber. Perusahaan yang mempekerjakan 2.000 karyawan itu memerlukan 600.000 pohon berdiameter rata-rata 25-30 cm setara 600 ha per bulan.
Himawan Rahardjo bakal meningkatkan produksi 2 kali lipat pada 2009; meningkat 5 kali lipat, lima tahun ke depan. Artinya, kebutuhan bahan baku juga bakal melonjak. Kesinambungan produksi DSN tergantung antara lain kepada produksi pekebun di Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo. Maklum, perusahaan itu tak mengelola perkebunan sendiri. Perusahaan di Temanggung, Jawa Tengah, itu mengekspor hasil olahan sengon ke Taiwan, Singapura, Jepang, Inggris, Belanda, dan Australia.
Jika memperhitungkan kebutuhan kelompok Dharma Satya Nusantara yang terdiri atas 4 perusahaan-3 lainnya di Bekasi, Gresik, dan Surabaya-kebutuhan sengon bakal melonjak. Grup Dharma Satya Nusantara memproduksi total 250.000 m3 lumber core alias papan laminating berukuran 204 cm x 102 cm x 3-5 cm, 300.000 m3 papan blok, 100.000 m3 kayu lapis, 200.000 pintu, dan 500.000 m2 lantai per tahun-semua berbahan baku sengon. Perusahaan yang berdiri pada 29 September 1980 itu semula mengandalkan hutan alam di Kalimantan. Pada 1988 perusahaan itu pindah ke Jawa. 'Tak bisa selamanya mengandalkan kayu alam,' kata Suyono M Raharjo dari Dharma Satya Nusantara Surabaya.
Makin Luas
Yang berteriak kekurangan bahan baku bukan cuma grup DSN. PT Bu Jeon, produsen finger joint, juga kekurangan pasokan. Menurut Hendro Aluan, bagian ekspor Bu Jeon, finger joint lembaran kayu setebal 3 cm, bersambungan di ujung yang bergerigi, mirip jari. Faedahnya sebagai bahan baku meja, komponen pintu, dan kerajinan tangan. Di pasaran internasional harga finger joint US$400-US$415 per m3. Dari kebutuhan 1.200-1.400 m3 balok kayu sengon per bulan, 'Hanya 600 m3 yang dapat terpenuhi,' ujar Hendro.
Permintaan pasar internasional terhadap sengon yang terus meningkat sebagai bentuk apresiasi terhadap kayu budidaya. Dunia mengharapkan hutan Indonesia tetap lestari sehingga kayu sengon hasil budidaya sebagai alternatif. Pantas permintaan kayu olahan sengon terus melambung.
Lihatlah PT Bineatama Kayone Lestari pada 1993-ketika awal berdiri-cuma mengekspor 5 kontainer barecore berbahan sengon sebulan. Kini, hampir 2 windu berselang, Taiwan meminta rutin 150 kontainer barecore per bulan. Itu di luar permintaan Timur Tengah 10 kontainer per bulan.
Di pasaran internasional harga barecore US$220 setara Rp1,98-juta per m3. Barecore adalah papan berukuran 1,2 m x 2,4 m. Ketebalannya 10 mm dan 13 mm. Menurut Edo Wijaya dari PT Bineatama Kayone Lestari, kebutuhan bahan baku untuk memproduksi 150 kontainer barecore mencapai 14.000 m3. Taiwan juga meminta 50.000 m3 sawntimber, tetapi baru terpasok 8.000 m3.
Gegap gempita industri pengolahan sengon itu berimbas di hulu. Para pekebun beramai-ramai membudidayakan kerabat petai itu. Selain lantaran pangsa pasar besar, harga jual juga terus membaik. Menurut Heru Jhudiarto, direktur muda Penanaman dan Lingkungan PT Kutai Timber Indonesia, harga sengon 6 tahun lalu Rp180.000 sekarang Rp670.000 per m3.
Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban memprediksi harga sengon bakal meningkat. 'Harga sengon akan terus meningkat hingga harga rasional yaitu masih lebih murah dibandingkan harga kayu asal hutan alam. Sekitar 4-5 tahun lagi kira-kira Rp1- juta per kubik. Industri tak akan bermain-main dengan harga itu karena permintaan ekspor sangat tinggi,' katanya.
Pantas jika Habib Abdul Qodir Alhamid, pemilik pondok pesantren di Maron, Probolinggo, mengkoordinir penanaman sengon hingga 3.200 ha. Begitu juga dengan PT National Plantation yang mengebunkan 800 ha di Tulungagung, Jawa Timur.
Kutai Timber Indonesia (KTI) memilih bermitra dengan para pekebun. Setiap tahun KTI memperluas lahan rata-rata 1.000 ha. Hendri Setiawan juga bermitra dengan pekebun untuk mengembangkan 130 ha sengon di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kemudahan memasarkan menjadi daya tarik bagi pekebun.
Jangankan menjual ratusan atau puluhan pohon, ketika memerlukan 'dana segar' untuk membayar SPP anaknya, Mukidi cuma menjual 2 pohon berumur 6 tahun berdiameter 20 cm. 'Sengon seperti ATM (anjungan tunai mandiri, red) berjalan,' kata pekebun di Temanggung, Jawa Tengah, kelahiran 26 Juni 1960 itu. Laba sengon di depan mata. Mau? (Sardi Duryatmo/Peliput: Andretha Helmina, Faiz Yajri, Nesia Artdiyasa, Niken Anggrek Wulan, Tri Susanti, & Vina Fitriani) [SUMBER]


Jutawan Karena Sengon

Jika harga cengkih tetap membaik dan pohon cengkih tak diterjang angin ribut, mereka mungkin tak pernah menjadi jutawan karena sengon.
Satu per satu pohon cengkih di lahan 11 ha itu tumbang di tangan Ikin Sodikin. Pekebun di Desa Banjaranyar, Kotamadya Banjar, Jawa Barat, itu geram ketika harga cengkih melorot tajam, cuma Rp1.600 per kg. Padahal, beberapa bulan sebelumnya harga Syzygium aromaticum itu melambung hingga Rp10.100 per kg. Namun, sejak Badan Pemasaran dan Penyangga Cengkih (BPPC) mengatur tataniaga si bunga harum itu, harga cengkih anjlok.
Maka pada 1990 ia mengganti cengkih dengan sengon. Total populasi cuma 800 bibit per ha. Rendahnya populasi itu lantaran kondisi lahan curam. Di lahan datar, pekebun dapat menanam hingga 1.200 bibit. Ikin memilih Paraserianthes falcataria lantaran di Kabupaten Ciamis dan Kotamadya Banjar bermunculan industri penggergajian yang membutuhkan banyak kayu.
Jutawan
Tujuh tahun berselang, Ikin membuktikan bahwa pilihannya tepat. Industri pengolahan kayu di Ciamis memborong sengon dengan harga Rp125.000 per m3. Panen perdana, pria kelahiran 11 Januari 1954 itu menuai 2.000 m3 dari total 5.500 pohon. Rata-rata tinggi pohon 17 m dan berdiameter 30-40 cm. Di tengah badai krisis moneter itu Ikin mengantongi Rp250-juta hasil penjualan perdana kayu sengon.
Menurut pria 54 tahun itu biaya investasi sengon relatif rendah. Sebagai gambaran, Ikin memperoleh benih secara gratis. Ikin hanya bermodal lahan 11 ha yang ia beli pada 1988 senilai total Rp22-juta. Harga tanah cuma Rp200 per m2 lantaran lokasinya di punggung bukit dan berkapur.
Sedangkan biaya perawatan cuma Rp1.000 per pohon per 6 tahun. Ikin hanya membersihkan gulma berupa sisik naga yang merambati pohon. Selebihnya, pohon tumbuh sendiri tanpa perawatan berarti. Artinya laba bersih Ikin Rp245-juta. 'Makanya tanam sengon, asal rajin pada 2 tahun pertama kita digaji oleh alam. Apalagi harga jual sengon terus meningkat,' kata Ikin.
Ayah 4 anak itu memanfaatkan laba berkebun sengon untuk memperluas lahan hingga 30 ha. Lahan itu-11 ha di antaranya-ditanami sengon lagi pada 1998. Enam tahun kemudian, pada 2004 ia memanen kembali. Kakek 4 cucu itu menuai 400 pohon atau 200 m3 per ha. Total jenderal volume panen ke-2 mencapai 2.200 m3 dari lahan 11 ha. Dengan harga jual Rp320.000 per m3, ia mengantongi Rp704-juta. Panen berikutnya, pada 2005 dari sengon yang tersisa pada penanaman 1990. Dengan harga Rp370.000 per m3 Ikin mendapat tambahan pendapatan Rp11.100.000 dari 50 pohon yang menghasilkan 30 m3.
Pendapatan Ikin Sodikin kian melambung lantaran ia juga menjadi pengepul sengon. Ia menerima sengon-sengon hasil perkebunan rakyat untuk memasok 4 perusahaan. Total pasokannya 1.500 m3 sawntimber atau balok panjang berukuran 130 cm x 5,2 cm x 6 cm dan 600 m3 log alias gelondongan per bulan. Ikin mengutip laba bersih Rp50.000 per m3 sawntimber dan Rp20.000 per m3 log. Itu berarti laba bersih sebagai pengepul balok panjang mencapai Rp75-juta dari sawntimber dan Rp12-juta dari log setiap bulan. Cucuran keringat berkebun sengon juga tampak dari 6 truk dan 8 mobil keluarga.
Meningkat
Nasib Mahrus Sholikhin mirip Ikin Sodikin. Pekebun di Gondosuli, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, itu menaruh harapan besar pada kayu anggota famili Fabaceae itu. Saat ini ia mengelola 3.600 pohon berumur 7 tahun. Dari jumlah itu 1.600 pohon di antaranya ditawar Rp250-juta oleh sebuah perusahaan perkayuan di Surabaya, Jawa Timur.
Mahrus menolak lantaran yakin harga kayu sengon pada Agustus 2008 bakal melonjak hingga Rp700.000; harga pada Juli 2008, Rp650.000 per m3. Yang pasti, ia memanen sengon-sengon itu pada Agustus 2008. Jika prediksi harga meroket itu benar, Mahrus meraup omzet Rp840-juta. Dengan harga saat ini, Rp650.000, ia bakal mengantongi Rp780-juta. Sebab, 3.600 pohon menghasilkan 1.200 m3. Pohon-pohon itu hasil penanaman di lahan 7 ha pada 2001.
Sebelumnya ayah 4 anak itu memanen sengon pada Juni 1996. Ketika itu pohon berumur 7 tahun dan berdiameter 20-40 cm. Dari 30 pohon yang ia panen, total volume kayu mencapai 5 m3. Volume panen itu memang relatif kecil, idealnya 10 m3. Dengan harga Rp100.000 per m3 total omzetnya Rp500.000.
Bukan hanya cerita manis yang dialami pekebun sengon seperti Mahrus. Berbagai hambatan juga dialami seperti saat panen pada April 2008. Dari 300 pohon berdiameter 20 cm ia menuai 27 m3. Idealnya pria 61 tahun itu menuai 100 m3. Rendahnya produksi itu lantaran perawatannya tak memadai. Mahrus seperti pekebun pada umumnya yang menganggap sengon dapat tumbuh sendiri tanpa perawatan berarti. Karena diameter batang kecil, pengepul hanya membeli Rp480.000 per m3 sehingga omzet Mahrus Rp11-juta.
Malahan pada 1994 sengon-sengonnya yang dipanen pada umur 5 tahun tak laku dijual. Sengon di lahan 2 ha ia habiskan untuk memperbaiki musola dan sekolahan yang rusak. Namun, kini ia dapat menikmati berkebun sengon. Mahrus semula menggantungkan hidup pada cengkih. Dari lahan 1,5 ha ia menuai rata-rata 6 ton cengkih per tahun. Pada 1990 angin puting beliung meluluhlantakkan ratusan pohon cengkih berumur 15 tahun.
Pekebun kelahiran 9 Februari 1954 itu menanam 2.000 bibit sengon di lahan bekas cengkih. Kebetulan saat itu-1991-pemerintah menggulirkan program sengonisasi. Laba berkebun sengon itulah yang ia manfaatkan untuk menyekolahkan ke-4 anaknya hingga meraih gelar sarjana. Jika pohon cengkih di lahannya dulu tak tumbang, boleh jadi Mahrus Sholikhin tak menjadi jutawan sengon. (Sardi Duryatmo/Peliput: Nesia Artdiyasa & Vina Fitriani) [SUMBER]

Mudahnya Jual Kayu Sengon
Haji Sofyan kelimpungan menjual 1.500 sengon berumur 6 tahun di lahan 3 ha. Pekebun di Desa Caringinnunggal, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu membiarkan pohon-pohon sengon tumbuh tak terurus. Padahal, banyak perusahaan siap menampung. Sofyan tinggal menekan nomor telepon, para penampung menjemput hasil panen.
Amir Rosdiana salah satu penampung yang siap dihubungi kapan pun. Pemilik CV Hasil Bumi di Desa Sagalaherang, Kecamatan Panawangan, Ciamis, itu mengatakan, 'Satu batang sengon pun yang akan dijual saya pasti datang.' Di mana pun lokasinya pria 30 tahun itu bakal menjemput dengan truknya. Penampung-penampung kayu sengon lainnya adalah PT Sumber Graha Sejati, PT Dharma Setya Nusantara, Bineatama Kayone Lestari, dan Kutai Timber Indonesia.
Yang penting kayu memenuhi spesifikasi. Spesifikasi antarpenampung, kriterianya hampir sama, cuma patokannya yang berbeda. Kriteria itu antara lain panjang, diameter, pecah ujung, bengkok, keberadaan lubang atau busuk, cacat hati, letak hati, dan kayu pecah. Selain itu ada juga mata kayu mati dan mata kayu hidup. Mata kayu mati berarti mata kayu ketika pohon ditebang sudah mati sehingga membusuk atau kering. (Vina Fitriani/Peliput: Faiz Yajri dan Nesia Artdiyasa). [SUMBER]

Harga Sengon Akan Terus Naik
Penghujung Juni 2008 betapa sibuknya Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban. Ia baru saja pulang dari Subang, Jawa Barat, usai kunjungan kerja. Tiba di rumah di bilangan Budiagung, Kabupaten Bogor, ia menyambut puluhan anak yatim. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu memang rutin mengundang puluhan anak yatim ke rumahnya. Di sela-sela kesibukan itulah MS Kaban mengemukakan pendapatnya tentang kayu sengon kepada wartawan Majalah Trubus Vina Fitriani. Berikut petikan wawancara itu.
Setahun terakhir popularitas kayu sengon meningkat. Apakah kayu sengon lebih berprospek dibandingkan kayu-kayu lainnya?
Sengon memiliki banyak kegunaan. Daunnya sebagai pakan ternak besar dan ternak kecil. Akarnya menghasilkan bintil atau nodul yang membantu porositas lahan sekaligus menyediakan unsur nitrogen sehingga meningkatkan kesuburan. Yang terpenting karakteristik kayunya sesuai dengan kebutuhan industri. Dibandingkan kayu-kayu lainnya, masa tebang sengon relatif cepat, budidaya mudah , dan tempat tumbuhnya di mana saja. Untuk memasok industri, sengon dapat dipanen pada umur 4-6 tahun. Dengan umur yang sama, kayu lain belum sekuat sengon.
Industri pengolahan kayu dunia juga menerima kayu sengon?
Pasar dunia sangat menerima sengon karena ringan dan hasil budidaya, bukan pengambilan dari hutan. Dunia semakin menghargai kayu hasil budidaya, bukan kayu hasil tebangan dari hutan. Kini, kayu sengon menjadi kebanggaan karena asli dari tanah Indonesia dan mampu menembus pasar dunia. Sengon cocok untuk menggantikan beberapa jenis kayu seperti meranti dan jati. Industri-industri yang dulu menggunakan kayu alam mulai beralih ke sengon. Itu terbukti dengan permintaan sengon yang sangat tinggi dibandingkan 4 tahun silam. Saat ini harga kayu sengon sangat tinggi, Rp700.000/m3. Ke depan harga kayu sengon tentu lebih tinggi lagi sehingga masyarakat lebih sejahtera. Produksi kayu sengon berumur 5 tahun 240 m3 per hektar setara Rp140- juta.
Jika demikian, pemerintah berniat memperluas penanaman sengon?
Pemerintah meluncurkan program Gerakan Penghijauan atau Gerhan pada 2006-2009. Melalui Dinas Kehutanan, pemerintah membagi-bagikan bibit sengon secara gratis kepada masyarakat. Untuk penanamannya, penyuluh mendampingi para petani. Hingga saat ini Departemen Kehutanan membagikan minimal 3-juta bibit (populasi 1.100 tanaman per ha, red) ke masyarakat di Pulau Jawa, baik melalui kelompok tani dan pesantrenpesantren.
Rencananya berapa banyak sengon yang akan ditanam?
Program penanaman hanya sejuta pohon, tetapi realisasinya mungkin lebih dari satu miliar pohon lantaran banyak kegunaan ekonomisnya. Jumlah itu pasti bisa terealisasi karena sangat menguntungkan bagi pekebun. Nanti sertifikasi tidak berdasarkan luas lahan, tetapi jumlah tegakan. Dengan begitu yang dijual berbentuk sertifikat dan harganya bisa berubah tiap tahun. Jika memungkinkan sertifikasi-sertifikasi itu ikut diperdagangkan dalam bursa perdagangan karbon. Negara-negara maju yang tidak mampu memenuhi perjanjian protokol Tokyo untuk menurunkan emisi pasti akan berebut untuk mendapatkannya.
Apakah industri di pulau Jawa akan terus menyerap pasokan dari masyarakat?
Yang bertahan hanya industri pengguna kayu hasil budidaya. Jumlah kayu alam bakal menyusut dan harganya tak masuk akal bagi industri. Oleh karena itu kini banyak pabrik yang mengembangkan kerja sama dengan kelompok-kelompok tani untuk penanaman sengon. Di Bogor, Jawa Barat, seperti Cibunian, Ciasmara, Purwabakti, Ciasihan, Gunungpicung, Gunungsari, dan Pasarean, mulai menanam sengon sejak 2006. Industri besar sudah menandatangani kontrak untuk mengambil hasil panen mereka.
Itu bentuk kepedulian pemilik modal kepada masyarakat dan untuk menghindari impor kayu akibat kelangkaan kayu di dalam negeri. Bekerja sama dengan kelompok tani juga demi keamanan. Walau industri mampu menanamnya sendiri, tetapi untuk keamanan seperti penjarahan tak bisa dijamin. Dengan kerja sama, industri dan petani saling diuntungkan.
Bagaimana dengan harga jual sengon?
Harga jual sengon mengikuti pasar dan dijamin tak ada penekanan terhadap petani. Harga sengon akan terus meningkat hingga rasional yaitu masih lebih murah dibandingkan harga kayu asal hutan alam. Sekitar 4-5 tahun lagi kira-kira Rp1-juta per kubik. Industri tak akan bermain-main dengan harga itu karena permintaan ekspor sangat tinggi. Mereka bakal membayar berapa pun untuk kebutuhan bahan baku. Dengan begitu pekebun memiliki posisi tawar lebih tinggi. Jika harga tak sesuai dengan keinginan petani, jika didiamkan pohon sengon tumbuh menjulang tidak membuat rugi.
Bagaimana pertumbuhan industri pengolah sengon?
Industri pengolah sengon kian bertambah. Data Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis menunjukkan terjadi peningkatan produksi kayu sengon. Pada 2003 tercatat produksi 50.339,935 m3 meningkat 4 kali lipat pada 2006 (221.584,347 m3). Apalagi industri juga menyesuaikan ukuran bahan baku berdiameter kecil. Jadi industri tidak hanya membutuhkan kayu sengon yang berdiameter besar. Beberapa pabrik menggunakan mesin putar yang mampu mengupas kayu log berdiameter 5 cm. Pabrik-pabrik itu menghasilkan vinir kayu sengon untuk memproduksi papan dengan vinir kayu sengon 100% atau 95%. [SUMBER]

Ditulis Oleh : Agung Budiono // Sunday, November 24, 2013
Kategori: